6.1.13

Aku Ingin Jatuh Cinta



Siapa tidak ingin jatuh cinta? Tentu semua orang ingin jatuh cinta. Tidak terkecuali aku. Tapi.... Nah, itulah masalahnya. Ada "tapi" yang selalu menghantui hidupku. "Tapi" yang membuatku selalu ragu dan takut jatuh cinta.

 Ketika Agus, teman sekantorku, mulai melirik-lirik ke arahku, aku malah jadi bete. Padahal... kurang apa Si Agus? Jabatannya lumayan di kantor, baru saja diangkat menjadi Asisten Manajer Personalia. Kalau hubunganku baik dengannya, bisa kumanfaatkan untuk menunjang karirku. Dia juga tidak jelek. Cukup ganteng malah. Tapi itulah, ada yang mengganjal. Sikapnya yang sok alim itu membuatku takut.
Aku takut laki-laki itu akan menuntutku menyerahkan sesuatu yang kini tak kupunyai lagi... kegadisanku. Ya, aku sudah tidak gadis lagi. Bahkan status janda pun lebih baik dibandingkan keadaanku sekarang. Betapa bodohnya aku! Tapi seribu kali mengutuk diri pun takkan mengubah keadaan. Nasi telah menjadi bubur. Kegadisanku telah terenggut dengan sia-sia. Masih pedih rasanya bila mengingat kejadian itu.
Waktu itu aku baru lulus SMA, masih lugu-lugunya. Euforia memenuhi rongga dadaku. Aku senang sekali, dan sangat bersemangat. Apalagi ketika Mama dan Papa mengijinkan aku kuliah di Bandung, meninggalkan kampung halamanku di Sukabumi. Rasanya senang sekali bisa bebas dari mereka yang mengungkungku sejak kecil. Kuanggap angin lalu semua nasihat mereka untuk berhati-hati, bahwa dunia tak selalu sebaik yang kukenal selama ini.
Begitulah, situasi berkembang dengan cepat. Di Bandung, tak kusangka aku begitu cepat mengenal apa yang disebut "pacaran". Jangan tanya soal cinta. Aku ragu apakah waktu itu aku mengerti apa itu "cinta". Yang aku tahu, cowok itu tampak keren di mataku. Namanya Randy, katanya dia juga suka sama aku. Maka kami pun "jadian". Aku mengabaikan isu yang santer terdengar bahwa dia cowok berandalan. Masalah minum-minum bir sedikit, waktu itu malah kuanggap macho.
Malapetaka itu terjadi saat liburan semester. Bukannya pulang kampung ke Sukabumi, aku malah ikut Randy dan geng motornya bertamasya ke Puncak. Kami menginap di sebuah villa, entah milik siapa. Tak kusangka, malam itu Randy dan teman-teman cowoknya minum-minum dan menghisap sabu-sabu. Aku takut melihatnya, lalu menyendiri saja di kamar. Tengah malam, tiba-tiba Randy menyergapku. Aku tak kuasa melawan. Dan pedihnya, ketika dia selesai, teman-temannya pun ikut bergiliran menggasakku.
Parahnya lagi, menjelang subuh, tiba-tiba villa itu digerebek polisi. Kami semua ditangkap. Polisi menganggap aku cewek panggilan, karena geng Randy sudah terendus biasa melakukan pesta semacam itu. Untung Papa punya koneksi dengan orang-orang penting, sehingga aku terbebas dari jerat hukum.
Betapa syok dan malunya aku saat itu. Bagiku, dunia serasa sudah kiamat. Mama dan Papa sampai tak bisa berkata apa-apa lagi karena begitu sedihnya. Walaupun tak kunyatakan, tapi aku merasa sangat berdosa pada mereka. Aku pun terpaksa putus kuliah. Tak sanggup aku bertemu muka dengan teman-temanku setelah kejadian itu. Bahkan membuka tirai jendela pun aku tak berani. Selang dua tahun kemudian barulah aku berani kuliah lagi. Tapi di tempat yang jauh, di Malang, dengan pengawasan ketat tanteku.
Kini usiaku tiga puluh delapan tahun, belum menikah, dan masih tinggal dengan Mama dan Papa. Bukannya aku tidak tahu bahwa banyak orang membicarakanku. Mungkin mereka menganggap aku “jual mahal” dan terlalu pilih-pilih. Tiada yang tahu perasaanku sebenarnya. Tiada yang tahu betapa tersiksanya aku oleh perasaan ini. Perasaan ingin sekali, tapi takut mencoba.
Aku ingin sekali jatuh cinta. Aku ingin sekali menambatkan hatiku pada seorang laki-laki. Ingin kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, dan membiarkan diriku terlelap dalam pelukannya. Seperti bayi terlelap dalam pelukan ibundanya. Tenang dan damai, seperti tak ada masalah apa pun di dunia ini, di masa lalu maupun yang akan datang. Tapi... mungkinkah?
Setiap malam aku melamun sambil menatap langit-langit kamarku. Kubiarkan khayalanku mengembara ke mana-mana. Kutayangkan segala macam kisah cinta dan adegan romantis di dalam benakku sendiri. Bahkan kuputar berulang-ulang tayangan itu. Aku berharap, dengan demikian, dalam tidurku aku akan bermimpi tentang adegan-adegan itu. Dan tentu saja, akulah yang menjadi pelaku utamanya. Namun, mimpi itu sangat jarang menghampiri diriku. Kalaupun ada mimpi yang datang, bukan aku menjadi aktrisnya. Bahkan aku menjadi penonton adegan mesra orang lain. Bah!
Sepertinya, di bawah sadar, aku bahkan juga takut bermimpi. Mungkin aku takut, mimpi indah yang romantis itu tiba-tiba terkoyak saat laki-laki itu terhenyak, “Kau... tidak perawan lagi?” Bah, itu lagi... itu lagi.... Mengapa masalah keperawanan menjadi begitu penting? Tidak ada lagikah laki-laki yang menghargai seorang wanita yang telah menyesali kebodohannya? Tidak bernilaikah penyesalanku, yang telah membuatku menghukum diri sendiri selama bertahun-tahun?
Kalau selaput dara itu begitu penting, mengapa tidak kujahit saja lagi apa yang telah robek? Aku pernah mendengar itu bisa dilakukan, asal kita punya uang untuk membayar dokternya. Tapi Mama menentang keras. Nilai keperawanan bukan pada selaput dara, katanya, tapi pada kejujuran dan akhlakmu. Benarkah? Aku tidak tahu.
Setiap kali ada lelaki mendekatiku, apalagi yang bertampang alim, aku langsung ketakutan sendiri. Bagaimana bila dia mengetahui aku tidak perawan lagi? Lebih parah lagi, bagaimana kalau dia akhirnya tahu apa yang terjadi sehingga aku tidak perawan lagi?
Begitulah, aku semakin ketakutan ketika Agus semakin aktif mendekatiku. Aku pura-pura cuek kepadanya, walaupun pada malam hari aku selalu berkhayal dibelai-belainya, hingga kubawa ke dalam mimpi. Ketika aku sudah tidak tahan lagi dengan perasaan seperti ini, aku pun memutuskan untuk keluar saja dari pekerjaanku sekarang, supaya tak bertemu lagi dengannya. Maka siang ini, dengan memasang muka datar, aku menyerahkan surat pengunduran diri pada manajerku di kantor.
"Sebentar, Mbak Nayla," kata Pak Broto, manajerku. "Tapi ada pesan dari Asisten Manajer Personalia untuk menyerahkan surat ini pada Mbak Nayla kalau jadi mengundurkan diri."
Surat itu tersegel rapi, dalam amplop dengan cap CONFIDENTIAL (SANGAT RAHASIA). Ketika kubuka, kudapati selembar surat tulisan tangan Agus sendiri:
Dear Nayla,
Maafkan aku, tapi aku mohon pertimbangkan lagi pengunduran dirimu. Sudah bertahun-tahun aku mencarimu, dan aku tidak mau kehilanganmu lagi. Pamankulah pemilik villa celaka itu, jadi aku tahu semua apa yang telah terjadi padamu. Aku juga kuliah di Bandung, dan aku sangat menyesal tidak berhasil mencegah apa yang terjadi padamu waktu itu. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, dan akan tetap begitu selamanya. Apapun yang terjadi padamu tidak akan memupuskan cintaku. Izinkanlah aku bertahta di hatimu hingga akhir hayat kita berdua.
Dari pecinta rahasiamu,
Agus Melas.
Glek!

MALANG 21/09/2012
Ditulis oleh Rahadi W. untuk KISAH FIKSI KEHIDUPAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar